Lillahita'ala of Blog - Riza Achmad Fauzi

Minggu, 30 November 2014

Ngaji-Semoga Ikhlas dan Barokah



Ngaji 1-Semoga Ikhlas dan Barokah            
             Pada hari ini saya mendapat suatu pelajaran yang sangat berharga. Ketika mengaji di Masjid Baitul Mukhlisin, pelajaran fikih yang diajar oleh Mas Den. Pada saat itu secara tidak sengaja menyinggung masalah belajar. Katanya orang itu tidak bisa langsung menjadi luar biasa, tapi harus bertahap dari nol ke satu, satu ke dua, dan seterusnya atau belajar dahulu. Contohnya Silahuddin (salah satu santri mukim), ia telah menyantri di pondok ini selama 1,5 tahun. Awalnya ia tidak bisa apa-apa, tapi sekarang ia sudah bisa mengaji. Proses yang tidak singkat. 

            Beliau juga menasehati santri yang lain. Begini katanya, “Belajarlah ketika hati ingin belajar, wiridanlah ketika hati ingin wiridan, tahjudlah ketika hati ingin tahajud. Tapi ingat lakukanlah jangan terlalu berlebihan, yang tepat sedikit tapi istiqomah. Contohnya melakukan sholat tahajud, pada malam hari hati ingin melakukannya, maka lakukanlah semampunya saja dengan catatan esok juga melakukan lagi. Biasanya ketika suatu hari tidak melakukannya, maka ketika ingin melakukan lagi akan terasa berat dan penuh cobaan. Itulah manfaatnya sedikit tapi istiqomah.
            Selain itu beliau juga menyinggung dalam menggunakan uang. Hal ini diawali salah satu santri wati belum memiliki buku fiqih. Belia bertanya keapada santri-santri,”Setiap hari jajan habis berapa? 5000?”. “Buku ini hanya 3000, tapi isinya sangat membawa manfaat yang sangat besar.Coba sesekali kalian tidak jajan! Dahulu saya ketika nyantri ke Kyai Nabrowi (Ngagel)meminta uang kepada orang tua itu sangatlah malu. Seingat saya, 2 tahun sekali saya meminta uang dan itu pun karena kepepet. Tepatnya tahun 2002 saya ingin ikut ziaroh kemudian dikirimi 100 ribu oleh orang tuanya. Pemberian itu membuat hati saya gundah, timbul pertanyaan- pertanyaan. Dan pada saat itu pula adek saya ikut nyantri, terpaksa tidak terpaksa saya harus membiayai adik daya dan diri saya. Sebenarnya itu hal yang tidak mungkin dapat saya lakukan. Kemudian saya memutar otak, ktika adik saya butuh uang, saya suruh minta pamannya dan saya suruh untuk menghitungnya. Jadi bagi kalian yang setiap bulan mendapat kiriman gunakn sebaik-baiknya dan berhati-hatilah. Jangan sampai salah pakai, sebab esok di yaumul hisab kita akan mempertanggung jawabkan”.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar